DaerahHead Line NewsPolitik & PemerintahanTulungagung

Deteksi Dini Faktor Resiko Kesehatan Siswa di Sekolah, Puskesmas Boyolangu Laksanakan CKG di SMAN 1 Boyolangu

Tulungagung, megapos.co.id – Puskesmas Boyolangu Kabupaten Tulungagung melaksanakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dimulai bulan April tahun ini yang menyasar ke lembaga pendidikan untuk anak usia 7- 17 tahun. 

Pelaksanaan CKG anak sekolah dimulai di SMAN 1 Boyolangu Tulungagung. Program Cek Kesehatan Gratis menjadi penanda perubahan arah kebijakan layanan kesehatan nasional.

Program ini tidak lagi sekadar soal pemeriksaan, tetapi upaya membangun kesadaran kesehatan jangka panjang. 

Sejak diterapkan nasional awal 2025, CKG diuji langsung oleh realitas lapangan yang beragam. Dari kota besar hingga wilayah terpencil selama pelaksanaannya menghadapi tantangan struktural sekaligus harapan besar.

Kepala UPT Puskesmas Boyolangu Yulaikah, SST.,M.Kes., melalui Tim Promkes, Yulianingrum melalui pesan elektronik menyampaikan bahwa Pemeriksaan Kesehatan Gratis atau juga di sebut CKG (Cek Kesehatan Gratis) Anak Sekolah adalah program Kemkes RI untuk mendeteksi dini faktor risiko kesehatan siswa di sekolah, Kamis (30/4/2026).

” Jadi untuk tahun 2026 ini CKG anak sekolah di mulai di SMAN 1 Boyolangu, Pemeriksaan ini meliputi status gizi, gigi, mata, telinga, hingga kesehatan jiwa, yang bertujuan menciptakan generasi sehat,” ucapnya. 

Disinggung sasaran usia anak dalam pelaksanakan CKG sekolah, Yulianingrum mengatakan Sasaran pelaksanakan di CKG adalah seluruh siswa siswi anak sekolah umur 7 -17 tahun yg ada di wilayah Puskesmas Boyolangu. 

“Iya betul sasaran CKG anak di sekolah adalah siswa-siswi yang ada di wilayah Boyolangu dengan kurun usia 7-17 tahun,” imbuhnya. 

Yulianingrum menambahkan, program CKG secara bertahap mengubah cara anak untuk memahami arti dari kesehatan. Dari sudut pandang reaktif (periksa saat sakit) menjadi proaktif (deteksi dini sebelum sakit parah).

“Dalam kerangka transformasi kesehatan, CKG diposisikan sebagai fondasi layanan preventif berbasis fasilitas primer, efektivitas program ini tidak hanya ditentukan oleh angka partisipasi namun Konsistensi pelaksanaan, kesiapan fasilitas, serta tindak lanjut hasil pemeriksaan juga menjadi faktor penentu,” tambahnya. 

Program ini juga memperlihatkan bahwa keterlibatan lintas sektor seperti sekolah, dan organisasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan perluasan layanan.

Bahkan, program ini disebut-sebut sebagai salah satu quick win dalam agenda pemerintahan baru yang menempatkan kesehatan sebagai prioritas investasi sosial. 

Secara keseluruhan, CKG menunjukkan bahwa layanan preventif mampu mengubah cara pandang anak terhadap perawatan kesehatan.

Dari berbasis keluhan menjadi berbasis pencegahan dan deteksi dini, inilah pelecut awal menuju sistem kesehatan yang lebih adil dan proaktif. (Sdr)