Soto Ikan Babat, Inovasi Puskesmas Tembelang dalam Menurunkan Stunting
Jombang, megapos.co.id – Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi utama pada balita di Indonesia yang belum teratasi. Menurut hasil Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting di Indonesia saat ini di angka 21,5 persen.
Kepala Puskesmas Tembelang, dr. Puguh Hari Subagia, M.Si mengatakan, angka ini menunjukkan penurunan 0,1 persen jika dibandingkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia Tahun 2022 yang mencapai angka 21,6 persen. Realisasi penurunan angka stunting dapat dikatakan masih jauh dari target yang diharapkan yaitu 14 persen pada Tahun 2024.
“Prevalensi stunting di Kabupaten Jombang pada tahun 2024 sebesar 18 persen dan mengalami penurunan sebesar 9 persen di Tahun 2025. Di wilayah kerja Puskesmas Tembelang prevalensi angka stunting pada tahun 2023 sebesar 7,23 persen, Tahun 2024 sebesar 3.28 persen dan mengalami penurunan menjadi 3,1 persen di Tahun 2025,” terang dr Puguh.
Data tersebut, menurutnya, menunjukkan penurunan prevalensi stunting yang sangat berarti, Hal ini tidak lepas dari berbagai program penurunan stunting yang telah diterapkan di wilayah Puskesmas Tembelang secara bersinergi dan berkelanjutan baik di level Puskesmas, kecamatan maupun desa.
“Meskipun prevalensi stunting di wilayah kerja Puskesmas Tembelang sudah berada di bawah standar nasional maupun kabupaten, namun upaya penurunan prevalensi stunting harus tetap dilakukan agar kedepan dapat menghasilkan generasi yang lebih cerdas menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.
Beberapa survei maupun wawancara yang dilakukan kepada ibu balita, lanjut dr Puguh, stunting yang terjadi pada balita dengan kondisi ekonomi yang kurang mampu selaras dengan asupan protein hewani yang sangat kurang. Hal tersebut dikarenakan ekonomi keluarga tidak mampu untuk memenuhi asupan protein hewani harian balita.
“Oleh karena itu, Puskesmas Tembelang melakukan sebuah inovasi yaitu Soto Ikan Babat (Stop Stunting Dengan Tiga Telur Naikan Tinggi Badan Dan Berat Badan Balita). Inovasi ini bertujuan untuk memberikan bantuan asupan protein hewani pada balita dengan gangguan gizi (stunting) yang berasal dari keluarga dengan ekonomi yang kurang mampu,” urainya.
Inovasi Soto Ikan Babat ini, kata dr Puguh, dilaksanakan dengan cara memberikan 3 telur dan 1 protein hewani lain (ikan lele) setiap hari kepada balita yang memenuhi kriteria. Penyaluran telur dan ikan lele ini dilakukan secara berkala (1 minggu sekali) oleh bidan desa dan kader.
“Keluarga balita juga diberikan edukasi oleh petugas gizi tentang pentingnya pemberian protein hewani pada balita dan cara mengolah telur serta ikan lele ini menjadi beberapa menu makanan agar balita tidak bosan dan mau mengonsumsi protein hewani tersebut secara berkesinambungan. Pemantauan berat dan tinggi badan balita dipantau secara teratur, 2 minggu sekali,” ujarnya.
Saat ini, menurut dr Puguh, sasaran inovasi ini adalah 2 balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tembelang yaitu Balita “FL” usia 30 bulan dan “MNK” usia 23 bulan. Balita “FL” telah mendapatkan intervensi dari inovasi ini sejak Bulan Juni dan didapatkan hasil tinggi badan Bulan Oktober 84,5 cm dari yang sebelumnya di Bulan Juni 80 cm, artinya ada perbaikan tinggi badan yang signifikan dibandingkan sebelumnya dilihat dengan nilai Z score yang menjauhi angka – 2 SD.
“Sedangkan Balita “MNK” telah mendapatkan intervensi sejak Bulan Juli dan didapatkan hasil tinggi badan Bulan Oktober 81 cm dari yang sebelumnya 77 cm di Bulan Juli. Keberhasilan intervensi inovasi ini tentunya juga dipengaruhi banyak faktor lain seperti komitmen keluarga dalam pemberian makanan pada balita, penyakit infeksi, dan lain sebagainya,” imbuhnya.
“Harapan kami, kedepan inovasi dapat diduplikasi dan diberikan kepada balita lain yang membutuhkan. Dengan begitu, penanganan stunting di wilayah kerja Puskesmas Tembelang dapat berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil yang diharapkan,” pungkasnya. (Nu)
