Taman Kili-Kili Dijadikan Living Laboratory, Bupati Trenggalek Sampaikan Terima Kasih kepada Tim Peneliti Universitas Brawijaya Malang
Trenggalek, megapos.co.id – Universitas Brawijaya Malang menjadikan Taman Kili-kili menjadi Living Laboratory. Sejak 2020 lalu, Universitas Brawijaya sendiri telah melakukan pendampingan konservasi penyu hijau berkolaborasi dengan pokmaswas setempat di kawasan tersebut.
Langkah tersebut dinilai meneguhkan komitmen yang telah lama berjalan untuk tidak hanya terbatas pada konservasi penyu, namun juga menjaga keanekaragaman hayati pesisir.
Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan masyarakat di Trenggalek merupakan salah satu kearifan budaya dan juga komitmen sebagai bagian dari global citizenship untuk melestarikan alam juga perbaikan akibat global warming.
“Kita bersama tim dari Universitas Brawijaya diterima dengan baik oleh Pak Bupati Trenggalek dalam rangka untuk meresmikan aktivitas yang selama ini sudah berjalan, tetapi kita akan terus tingkatkan untuk membuat Living Laboratory, khususnya adalah keanekaragaman hayati pesisir,” ucapnya.
“Tidak hanya Penyu, melainkan juga keanekaragaman hayati pesisir seperti mikro biologinya dan juga produk-produk atau tanam-tanaman yang ada di pesisir di Trenggalek ini,” imbuh Prof. Widodo
“Tujuan yang pertama tentu pengembangan ilmu pengetahuan, kemudian yang kedua kita bersama-sama mendukung Pak Bupati dan juga warga Trenggalek yang sangat peduli melestarikan keanekaragaman hayatinya dan melestarikan alam,” jelasnya menambahkan.
Sementara itu, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin dalam kesempatan itu menyampaikan terima kasih kepada para peneliti dari Universitas Brawijaya yang telah melakukan pendampingan konservasi penyu sejak lama, bahkan sejak 2010 atas prakarsa Bupati Mulyadi hingga berkembang sampai sekarang.
“Jadi bayangkan kalau didukung dana dari perusahaan, kemudian teknik-teknik konservasinya didukung oleh data berbasis sains dan pemerintah daerah dari sisi regulasi, kan kawasan ini juga sudah masuk kawasan ekosistem esensial,” tutur Mas Bupati Ipin.
“Kemudian nanti terkait beberapa perijinan dengan penggunaan kawasan hutan bisa tata kelolanya lebih baik oleh pokmaswas dan segala macam kita upayakan dari sisi regulasi kita, kita dorong terus menerus,” lanjutnya.
“Saya senang, semoga kerja sama ini terus berlanjut, karena tadi komitmennya seperti yang disampaikan oleh Pak Rektor dan Pak Wakil Rektor ini menjadi living lab, jadi yang namanya living berarti harus hidup terus menerus, tidak hanya hari ini ketika diresmikan,” harap Mas Ipin menambahkan.
Menurutnya, saat ini kesadaran akan lingkungan terus meningkat sejak Tokyo Protocol yang disusul Paris Agreement. Banyak perusahaan mulai berfikir tentang enviromental, social, and governance (ESG) juga pembangunan atau manajemen yang berkelanjutan. (Sdr/kom)
