BlitarDaerahHead Line NewsPendidikan

Toni Andreas Turun Tangan Terkait Permasalahan Wali Santri dan Ponpes di Blitar

Blitar, megapos.co.id – Terkait dengan permasalahan perseteruan antara Wali Santri dan pihak Pondok Pesantren Mambaul Sholihin, Toni Andreas Ketua KONI Kabupaten Blitar turun tangan.

Toni yang juga merupakan salah satu orang yang dekat dengan Da’i muda terkenal yakni Gus Iqdam segera mengambil langkah dengan melakukan klarifikasi pada Kamis (28/06/2024) bersama Muhammad Al-Amin selaku pengasuh Ponpes Mamba’us Sholihin 2 di Kantor KONI Kabupaten Blitar.

“Sesuai dengan petunjuk dan arahan dari Gus Iqdam agar semua pondok pesantren yang ada di Blitar dan sekitarnya harus dijaga agar tetap aman, rukun dan damai jadinya saya harus segera turun tangan agar permasalahan bisa segera diatasi,” jelas Toni.

“Hari ini saya mengundang pengasuh pondok untuk mengetahui permasalahan sebenarnya dan mencari penyelesaian dengan sebaik-baiknya,” tambahnya.

Sementara itu, Muhamad Al Amin, pengasuh Ponpes menjelaskan kronologi permasalahan tersebut.

“Permasalahan yang diduga pihak pondok melakukan tindakan tidak manusiawi dengan membuang barang milik santriwati yang telah selesai mondok usai acara Purnawiyata pada Minggu (23/06/2024) hanyalah kesalahpahamanan,” terangnya.

“Kejadian tersebut sebenarnya akibat dari wali santri yang tergesa-gesa mengambil barang milik anaknya sehingga tidak beraturan, padahal pihak ponpes sudah mengimbau sejak jauh hari untuk pengemasan barang milik santri, tidak ada niatan buruk dari kami, kami hanya memindah barang santriwati ke bawah ruangan agar mempermudah mengambilnya,” lanjutnya.

Muhammad Al-Amin menambahkan jika hal tersebut juga dilakukan karena ruangan akan segera dibersihkan untuk persiapan kegiatan selanjutnya tapi santriwati yang barangnya merasa dibuang kecewa dan membagikan kejadian tersebut di media sosial sehingga viral dan banyak netizen yang mengecam tindakan ponpes.

Dari kejadian tersebut, pihak Ponpes berjanji akan lebih berhati-hati dalam berkomunikasi dan santri maupun keluarganya. Diharapkan dengan klarifikasi tersebut bisa meredakan ketegangan atas kesalahpahaman yang terjadi.

“Pesantren selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan seluruh santri serta alumni, memberikan dukungan dan memberi perlakuan yang sama sehingga tidak ada diskriminasi dengan berkomitmen menciptakan lingkungan yang inklusif dan harmonis bagi semuanya,” tegasnya. (Tim)