DaerahHead Line NewsPolitik & PemerintahanTulungagung

Antisipasi Cegah Konflik Sosial di Era digital, Kesbangpol Tulungagung Gelar Sosialisasi Penguatan Kapasitas dan Deteksi Dini

Tulungagung, megapos.co.id – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Tulungagung menggelar Sosialisasi Penanganan Konflik Sosial yang dilaksanakan di Aula lantai dua UBHI (Universitas Bhineka PGRI Tulungagung), Rabu (29/7/2026).

Kegiatan dihadiri oleh AIPDA Ananta Bagus, S. Sos dari Unit SAT Intelkam Polres Tulungagung, Dr Yudi Krisna Wicaksono, M.IP selaku narasumber dari Dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Sosial, Tokoh pemuda Karang taruna, Mahasiswa dan tamu undangan lainnya. 

Dalam sambutannya, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Tulungagung, Agus Prijanto Utomo,S.E mengatakan, bahwa menjaga persatuan dan kondusivitas daerah merupakan tanggung jawab bersama dan bukan hanya tugas pemerintah maupun aparat keamanan semata. 

“Konflik sosial pada dasarnya tidak berdampak buruk, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi, yang harus kita cegah adalah ketika perbedaan menjadi permusuhan, oleh sebab itu sinergi menjadi kata kunci suruh unsur untuk membangun sistem deteksi dini yang kuat”, ucapnya. 

Agus menambahkan, perubahan zaman ke era digital memberikan dampak kemudahan terutama dalam mengakses informasi yang dapat diterima dalam hitungan detik, namun di balik kemudahan tersebut muncul tantangan baru seperti penyebaran informasi tanpa proses verifikasi sehingga menimbulkan dampak negatif seperti konflik sosial. 

“Ruang digital partisipasi masyarakat menjadi terbuka dan konflik justru di mulai dari unggahan di media sosial dan ini menjadi tantangan baru sehingga perlu di deteksi secara dini”, lanjutnya. 

Diungkapkannya, konflik bisa terjadi setiap saat dan dimana saja, konflik juga terjadi dalam berbagai tingkatan baik skala kecil maupun skala besar. Yang jelas konflik itu terjadi akibat ketidaksesuaian antara keinginan dengan kenyataan.

“Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya konflik, diantaranya bidang politik, bidang ekonomi, bidang keyakinan, dan konflik dibidang sumber daya alam. Konflik dibidang politik misalnya, terjadi karena adanya perbedaan pandangan politik,” katanya.

“Ekonomi misalnya, karena tidak meratanya distribusi barang kebutuhan. Kemudian, konflik dibidang keyakinan, dikarenakan persoalan agama yang terus menerus dipersoalkan dan terakhir konflik dibidang Sumber Daya Alam dikarenakan adanya Sumber Daya Alam yang dimiliki setiap daerah. Potensi konflik seperti mestinya dideteksi sejak dini agar tidak menjadi persoalan baru dikemudian hari,” ungkapnya.

Kesbangpol mensosialisasikan sistem deteksi dini dan cegah dini terhadap konflik sosial di masyarakat serta memperoleh pengetahuan, pemahaman dan pedoman dalam melaksanakan tugas di lapangan terkait penanganan konflik sosial sehingga tidak terjadi keraguan dan kegamangan dalam bertindak.

“Cara penanganan konflik yaitu dengan menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, tentram, damai dan sejahtera, memelihara kondisi damai dan harmonis, dalam hubungan sosial kemasyarakatan, meningkatkan tenggang rasa, dan toleransi dalam kehidupan masyarakat dan bernegara, termasuk memelihara keberlangsungan fungsi pemerintah, melindungi jiwa, harta, benda serta sarana dan prasarana umum,”katanya.

Agus menjelaskan, tujuan sosialisasi ini adalah untuk mengetahui dan memahami berbagai hal penyebab konflik berikut potensi-potensinya agar dapat diambil langkah-langkah persuasif.

“Dengan demikian dapat tercipta suatu kondisi yang tertib dan aman. Jadi maksud acara ini agar semua peserta yang hadir memperoleh wawasan dan informasi terkait hal-hal yang dapat menyebabkan konflik terutama dari media sosial,” jelasnya. (Sdr)